P e s i s i r a n, Perlu Teknologi Pengolahan Ikan

Tanggal : 5 April 2005
Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0504/05/pan25.htm

Oleh: Achmad Zamroni



KEMAJUAN bidang teknologi menuntut semua lapisan masyarakat untuk menyesuaikan diri agar tidak tertinggal. Kemajuan teknologi tersebut membawa dampak sosial ekonomi, budaya, dan psikologis. Hal itu terlihat pada gaya hidup, tingkat perekonomian masyarakat yang berbeda, baik pada masa 80-an, 90-an sampai sekarang.


Namun kemajuan teknologi ini tidak serta-merta diikuti oleh seluruh masyarakat, terutama mereka yang berkecimpung di bidang perikanan. Masyarakat perikanan yang sebagian besar bermukim di wilayah pesisir seperti Tegal, Juwana, dan Kebumen masih kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, seperti dalam perikanan tangkap, perikanan budi daya maupun pengolahan ikan.


Permasalahan klasik yang menjadi alasan adalah masyarakat kurang mampu memanfaatkan atau mengikuti kemajuan teknologi tersebut.


Alasan-alasan klasik tersebut berkisar tentang permodalan, tingkat pendidikan, karakter dan sifat masyarakat pesisir yang pada akhirnya mengerucut pada permasalahan di tingkat perekonomian atau tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir.


Tidak bisa dipungkiri, kondisi masyarakat pesisir sampai saat ini sebagian besar masih berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah.


Lingkungan pesisir dalam perikanan tangkap hanya sekadar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari adalah salah satu kenyataan sebagai akibat masyarakat yang tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi.


Padahal akhir-akhir ini, kemajuan teknologi itu telah hadir dan merambah lingkungan pesisir. Permasalahan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran kurangnya pengetahuan masyarakat pesisir.


Pentingnya lingkungan bagi masa depan, diyakini telah disadari oleh sebagian masyarakat pesisir. Namun faktor sifat yang malas untuk mencari alternatif pekerjaan atau menggunakan cara-cara yang lebih bijaksana dalam mengeksploitasi alam merupakan pendorong mereka untuk selalu mengeksplotasi alam dengan cara mereka sendiri.


Untuk mengubah karakter masyarakat, memang mudah diucapkan tetapi tidak mudah dilakukan. Sebab faktor yang berpengaruh sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan political will dari pemerintah daerah dalam mengelola wilayah pesisir.


Apa pun teknologi yang dikenalkan kepada masyarakat pesisir, tanpa ada kesadaran, akan sulit diterima oleh mereka.


Namun yang akan terjadi adalah resistensi masyarakat terhadap teknologi, baik tangkap maupun pengolahan yang diperkenalkan.


Kemiskinan


Masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya perairan pesisir adalah nelayan dan petani ikan. Selain mereka, terdapat juga kelompok pedagang dan pengolah ikan yang hidup berdampingan dengan para nelayan. Pekerjaan sebagai nelayan merupakan pekerjaan utama bagi sekitar dua juta orang.


Sementara itu, ada juga nelayan yang masih atau bahkan mengandalkan kegiatan ekonomi di luar perikanan sebagai mata pencaharian. Mereka ini, masing-masing adalah nelayan sambilan utama dan nelayan sambilan tambahan.


Masyarakat pesisir sering disebut sebagai masyarakat miskin, jika dilihat dari tingkat perekonomian. Secara terstuktur, Dahuri (2000) mengajukan alasan kemiskinan nelayan. Intinya, kemiskinan itu disebabkan karena dua hal yaitu biaya tinggi yang harus dibayar dan penerimaan yang rendah dari hasil penjualan ikan hasil tangkapan. Seterusnya bila diteliti lebih jauh, biaya tinggi disebabkan karena struktur pasar yang cenderung monopsoni sehingga merugikan nelayan.


Sementara itu, penerimaan yang rendah disebabkan oleh volume hasil tangkapan dan/atau harga ikan yang rendah. Dahuri (2000) mengklasifikasikan alasan kemiskinan nelayan ke dalam empat hal, yaitu (1) kemiskinan karena aspek teknis biologis sumber daya ikan, (2) kemiskinan karena kekurangan prasarana, (3) kemiskinan karena kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan (4) kemiskinan karena struktur ekonomi yang tidak mendukung dalam memberikan insentif usaha.


Pengolah ikan di wilayah pesisir masih menggunakan teknologi pengolahan tradisional. Keterbatasan terhadap akses modal dan teknologi, menjadikan mereka selalu bertahan pada penggunaan cara-cara tersebut.


Tingkat teknologi pengolahan ikan masih dipertahankan oleh masyarakat karena faktor kelayakan dan keuntungan dari usaha tersebut.


Pengolahan ikan seperti pemindangan, pengasinan, dan pengolahan ikan lainnya pada tingkat usaha mikro masih digunakan sebatas pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Karena itu, ketergantungan terhadap alam (seperti panas matahari, musim angin barat, dan lainnya) sangatlah tinggi.


Bertahan

Pengolah-pengolah ikan tradisional di Jawa Tengah, sampai saat ini masih bertahan dengan menggunakan cara-cara tradisional dalam menghasilkan produk-produk olahan. Faktor yang menjadi alasannya antara lain cara ini paling sesuai dengan kemampuan modal dan tingkat ekonomi mereka.


Usaha pengubahan kebiasaan atau meningkatkan tingkat usaha, diperlukan keberanian dari masyarakat itu sendiri. Di samping itu juga diperlukan kajian teknologi secara holistik.


Munculnya berbagai lembaga keuangan mikro (LKM) di pedesaan yang menyediakan berbagai kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses modal, seharusnya mampu menjawab permasalahan yang dialami masyarakat pesisir. Demikian halnya yang terjadi dalam pengolah-pengolah ikan tradisional yang mengalami kendala dalam hal permodalan.


Di samping itu, pengenalan teknologi pengolahan harus serta-merta diiringi dengan pendampingan kepada masyarakat. Pendampingan untuk memperkenalkan teknologi-teknologi baru di masyarakat, sering diabaikan oleh pemerintah. Selama ini yang menjadi tolok ukur keberhasilan program pemerintah dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan dalam memberdayakan masyarakat pesisir adalah telah dilaksanakan dan disampaikannya program-program tersebut.


Namun yang menjadi permasalahan kemudian adalah tidak adanya pendampingan secara intensif terhadap program-program tersebut sehingga sering menjadi sebab kegagalan program pemerintah.


Adanya resistensi masyarakat terhadap pengenalan teknologi pengolahan ikan lebih disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat terhadap adanya teknologi baru.


Di sisi lain, perubahan cara-cara pengolahan ikan itu saat ini maupun di masa yang akan datang harus dilakukan. Perubahan cara-cara pengolahan itu tentunya memperhatikan kestabilan pasar, meningkatkan hegienitas produk. Dengan pertimbangan itu, pengenalan ataupun pengenalan model-model teknologi baru pengolahan ikan memang harus sedikit dipaksakan. (90m)


- Penulis adalah alumni Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang, pemerhati bidang perikanan.

0 komentar: